Jakarta, Tempuh.web.id –Ketua Umum Barisan Relawan Jalan Perubahan (Bara JP), Willem Frans Ansanay, menilai berbagai kritik dan sindiran yang belakangan diarahkan kepada Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, terkait agenda kunjungannya ke sejumlah daerah merupakan respons yang berlebihan dan tidak proporsional.
Menurut Frans, status Jokowi saat ini adalah warga negara biasa yang tidak lagi menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia maupun pejabat negara. Karena itu, aktivitasnya memenuhi undangan masyarakat atau menghadiri berbagai kegiatan di daerah merupakan hal yang wajar dan tidak perlu dipersoalkan secara berlebihan.
“Pak Jokowi sekarang adalah rakyat biasa. Beliau bukan lagi presiden dan bukan pejabat negara. Jadi ketika beliau memenuhi undangan masyarakat atau berkunjung ke daerah, saya tidak melihat ada yang salah,” ujar Frans saat ditemui di kediamannya, Jumat (5/6/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan sebagai tanggapan atas berkembangnya berbagai narasi politik yang mengaitkan kunjungan Jokowi ke sejumlah wilayah dengan agenda politik menuju Pemilu 2029. Frans menilai penggunaan istilah “turun gunung” terhadap aktivitas Jokowi justru berpotensi membangun persepsi negatif yang tidak memiliki dasar yang kuat.
Menurutnya, tingginya perhatian publik terhadap setiap langkah yang dilakukan mantan Wali Kota Surakarta tersebut menunjukkan bahwa Jokowi masih memiliki pengaruh besar dalam dinamika politik nasional.
“Kalau setiap aktivitas beliau selalu menjadi sorotan, itu menunjukkan bahwa pengaruh Pak Jokowi masih sangat kuat di tengah masyarakat maupun dalam percaturan politik nasional,” katanya.
Frans juga mempertanyakan alasan sebagian elite politik yang terus menjadikan Jokowi sebagai sasaran kritik. Menurutnya, setiap pemimpin dan tokoh politik pasti memiliki kelebihan serta kekurangan selama menjalankan amanah kepemimpinan.
“Kenapa Pak Jokowi selalu dipersoalkan? Semua presiden dan tokoh politik pasti punya kekurangan. Seharusnya para elite memberikan contoh yang baik kepada masyarakat dengan menjaga etika politik dan memperkuat persatuan bangsa,” tegasnya.
Lebih lanjut, Frans menegaskan bahwa apabila Jokowi memilih untuk membantu pengembangan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) atau menghadiri kegiatan politik tertentu, hal tersebut merupakan hak politik yang dijamin dalam sistem demokrasi Indonesia.
Menurutnya, aktivitas serupa juga dilakukan oleh banyak tokoh nasional maupun pimpinan partai politik lainnya tanpa memunculkan polemik berkepanjangan.
“Kalau Pak Jokowi ingin membantu membesarkan PSI atau menghadiri kegiatan politik tertentu, itu hak beliau. Banyak ketua umum dan tokoh partai lain yang melakukan hal yang sama dan tidak menjadi persoalan,” ujarnya.
Frans menambahkan, antusiasme masyarakat terhadap setiap kunjungan Jokowi menjadi indikator bahwa mantan presiden dua periode tersebut masih memiliki daya tarik dan tingkat kepercayaan yang tinggi di mata publik.
Ia mencontohkan bagaimana warga di berbagai daerah kerap memberikan sambutan hangat setiap kali Jokowi hadir dalam kegiatan kemasyarakatan. Fenomena tersebut, menurutnya, mencerminkan bahwa masyarakat masih merasakan manfaat dari berbagai program pembangunan yang dijalankan selama dua periode kepemimpinannya.
“Kalau sampai sekarang masyarakat masih antusias menyambut Pak Jokowi, berarti ada kepercayaan dan hasil kerja yang dirasakan rakyat selama beliau menjadi presiden. Itu yang membuat beliau tetap memiliki magnet di tengah masyarakat,” tuturnya.
Frans menilai popularitas Jokowi yang masih tinggi hingga saat ini kemungkinan menjadi salah satu faktor utama yang memicu munculnya berbagai kritik maupun tudingan politik yang terus diarahkan kepadanya.
Meski demikian, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk menghentikan praktik saling menyerang di ruang publik dan lebih memfokuskan perhatian pada upaya mendukung agenda pembangunan nasional yang saat ini dijalankan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
“Kita harus menjaga suasana politik yang sehat dan santun. Jangan terus-menerus membangun narasi yang memecah belah. Alasan Jokowi terus diserang karena memang pengaruh dan popularitasnya masih tinggi. Saat ini yang lebih penting adalah mendukung keberlanjutan pembangunan dan menjaga persatuan bangsa,” tegas Frans.
Di akhir pernyataannya, Ketua Umum Bara JP itu juga mengimbau masyarakat untuk terus menjaga kerukunan sosial, mempererat persaudaraan antaretnis, antaragama, dan antargolongan sebagai fondasi penting dalam menjaga stabilitas nasional.
Menurutnya, persatuan dan kebersamaan merupakan modal utama untuk mempercepat pembangunan di berbagai sektor sekaligus mewujudkan Indonesia yang semakin maju, kuat, dan sejahtera. (*/tm)

